Kata
sebagian orang cinta itu tidak pernah salah. Mungkin kalimatitu juga berlaku
untuk cinta sesame jenis (Lesbian).
Sebut saja namanya Alexa, aku mengenalnya saat aku masih bekerja disalah satu
perusahaan roti ternama di Surabaya. Perkenalanku berawal saat gadis yang
menurutku memiliki paras yang cukup cantik ini menjadi karyawan baru di divisi
yang sama denganku saat itu. Dalam penglihatanku Alexa terlihat seperti gadis
pada umumnya, hanya saja penampilannya yang sedikit tomboy saja. Dan penampilan
seperti itu tentu saja sama sekali wajar di era yang seperti ini. Perempuan
bertingkah seperti laki-laki begitupula sebaliknya, laki-laki yang bertingkah
seperti perempuan.
Berawal
dari sebuah percakapan kecil saat kami sedang makan siang di sebuah kantin yang
sengaja disiapkan khusus untuk para karyawan perusahaan.
“Hey fir, uda pesen makanan?
Kalau belum mau sekalian aku pesenin?” ujar Alexa yang tiba-tiba muncul di
hadapanku.
“Ngagetin aja lex, udahlah.”
Jawabku sedikit kaget karena kedatangan Alexa yang terkesan tiba-tiba. Alexapun
segera meninggalkanku dan bergegas untuk memesan makan siangnya namun tak lama
kemudian dia sudah kembali duduk dengan sepiring nasi padang di tangannya.
“Fir, gabung yaa” ujarnya lagi kepadaku aku hanya menjawabnya dengan anggukan .
“Eh fir kamu kenal nggak sama
karyawan yang duduk di sebelah sana itu?” Tanya Alexa tiba-tiba sambil melirik salah satu meja makan
di ujung kantin ini. Aku yang sedari tadi mengikuti kemana arah matanya memandang
langsung mengerti siapa orang yang dimaksud oleh Alexa.
“Ooooohhh si indah?” jawabku
seadanya dan belum mengerti kemana arah pembicaraan Alexa yang sebenarnya.
“Manis banget yaa,,,,” pujinya.
Aku masih sibuk dengan makananku
namun sedikit merasa terganggu dengan pujian Alexa dan disergap rasa aneh
dengan tingkah lakunya yang tiba-tiba melontarkan pujian yang sebenarnya lumrah
saja dilakukan seorang perempuan kepada sesama jenisnya yang emiliki penampilan
menarik. Namun, aku menangkap sesuatu yang berbeda di mata Alexa saat sesekali
memandangi wajah salah satu karyawan bernama Indah yang meurutku memiliki
penampilan menarik dan paras yang begitu cantik serta terkesan sangat feminine
untuk sekelas karyawan perusahaan swasta seperti ini.
Entah
bagaimana awalnya setelah percakapan kecil itu setiap harinya aku seringkali
menangkap basah Alexa memberikan perhatian-perhatian kecil dan perlakuan manis
kepada Indah. Perasaan-perasaan aneh semakin bermunculan di benakku melihat
kedekatan Alexa dan Indah yang mulai mengganggu penglihatanku. Karena untuk
kedekatan sesama jenis menurutku itu
terlalu berlebihan. Sampai suatu ketika saat aku mendapat shift malam aku tak
sengaja melihat Alexa tengah mencium Indah di parkiran perusahaan. Entahlah saat itu juga ada perasaan jijik,
aneh, bahkan canggung melihat hal seperti itu.
Sejak
saat itu aku mulai berspekulasi dan berkutat dengan pikiranku sendiri. Sampai
suatu ketika Alexa mulai bertanya lagi kepadaku tentang sikapku yang berubah
dan seakan-akan menjaga jarak dengannya. Karena bagaimanapun hal-hal seperti
itu sangat-sangatlah asing dan jauh berbeda dengan kehidupanku di kota kecil
sekaligus bisa dibilang pedesaan yang masih terlampau kental dengan norma-norma
dan adat istiadat yang berbanding terbalik dengan kota metropolitan sekelas
Surabaya. Sampai pada akhirnya Alexa menyadari alasanku menjaga jarak dengannya
dan dia mulai menceritakan segalanya.
Alexa
menceritakan alasannya mengapa seorang gadis yang aku piker begitu baik dan
sama saja dengan gadis dan karyawan-karyawan lainnya di perusahaan ini.
Kurangnya perhatian dan sikap kasar dari sang ayah kepada ibunya menjadi pemicu
mengapa ia memutuskan untuk menjadi seorang ‘Butchy’ (Laki-laki dalam lesbian) karena ia ingin menjdi laki-laki
yang baik bagi pasangannya. Tidak seperti sang ayah yang begtu kasar pada
ibunya. Dia mengenal sosok Indah justru bukan dari aku. Namun cerita dari para
temannya di komunitas lesbian yang tidak pernah akau tahu sebelumnya yang
ternyata sudah cukup menjamur di Surabaya.
Surabaya yang dikenal sebagai kota
pahlawan dengan ceritanya yang melegenda dan cerita kelam serta pergaulan bebas
yang juga tak lekang dimakan zaman. Ironis memang. Yang membuatku terkejut tak
hanya cerita Alexa tentang kehidupannya sebagai seorang ‘Butchy’ namun juga indah yang telah lebih dulu terjun sebagai seorang ‘Femme’ (Perempuan dalam lesbian) dan juga seperti yang telah dituturkan
oleh Alexa Indah juga tergabung dalam sebuah komunitas lesbian di kota
pahlawan. Indah juga tentunya memiliki alasan dan kisah yang tak kalah tragis
seperti Alexa .
Dari cerita yang kudengar dari Alexa
aku merasa diriku terpental begitu jauh dari garis hidup yang kujalani selama
ini. Bagaimana tidak, hidup di kota besar sekelas Surabaya yang ternyata
memiliki realita yang berbanding terbalik dengan kehidupanku yang normal dan
biasa-biasa saja di kampung halamanku. Disini, individualism begitu kental
terasa, hingga permasalahan-permasalahan keluarga yang begitu kompleks dibandingkan
di sebuah desa. Hidup beriringan dengan hal-hal seperti lesbian, homo,
kehidupan malam yang penuh hingar binger memaksaku untuk mau tidak mau hidup
brdampingan bersama sisi kelam Surabaya.
Setelah cerita pelik tentang Alexa
dan kehidupan lesbiannya kami masih berteman dengan cukup baik meskipun dengan
sisi lain yang dimiliki olehnya. Bahkan hingga saat ini aku masih tak habis
pikir Alexa masih sering meminta nasihatku. Yang paling mengejutkan bahwa
sesungguhnya Alexa ingin keluar dari kubangan menjadi seorang lesbian tersebut.
Namun barangkali seperti pada umumnya untuk meninggalkan sesuatu yang sudah
menjadi kebiasaan bahkan rutinitas akan cenderung sulit untuk mengakhirinya.
Berkali-kali aku mencoba mengenalkannya dengan teman-teman lelaki yang aku
kenal. Namun tetap saja hingga saat ini yang aku tahu Alexa tetap menjadi
seorang lesbian.
“Lexa, sebagai temen
mungkin aku nggak tahu apa-apa tentang kamu dan kehidupan kamu aku sudah coba
bantu kamu tapi semuanya balik lagi ke
kamu karena yang bisa ngerubah semuanya
adalah diri kamu sendiri “ pesanku pada Alexa.
Saat itu juga mata Alexa terlihat
berkaca-kaca seraya membuka kedua tangannya bersiap untuk memelukku. Aku kaget
namun untuk terakhir kalinya aku
menyambut pelukan itu bukan sebagai
seorang kesbian tapi sebagai seorang sahabat. Memang tidak ada agama
yang membenarkan hal tersebut. Namun Alexa telah mengajarkanku banyak hal
tentang persahabatan, cara menghargai dan tidak egois untuk hidup berdampingan
dengan sisi-sisi kelam kahidupan metropolitan. Pesan itu menjadi pesan
terakhirku untuknya sebelum aku mengundurkan diri dari tempat kerjaku itu.
Karena kontrak kerjaku yang sudah waktunya untuk diakhiri.
Alexa tetaplah Alexa gadis biasa dengan sisi lain
yang tidak banyak orang bisa menerima dan memahaminya . menyalahi kodratnya
sebagai seorang wanita tentu tidak bisa disebut sebagai pilihan. Tapi keadaan
yang telah membentuknya. Seiring
berjalannya waktu kami masih sering berkomunikasi meski hanya sekedar
menanyakan kabar dan bertukar pengalaman . dan tetap menjadi teman yang baik
bagi satu sama lain. Harapanku untuk alexa tetap sama menjadi seorang wanita
yang mencintai lelaki seutuhnya dan tidak lagi menyalahi kodratnya.
great ..
BalasHapus