Senin, 14 Maret 2016

SISI KELAM DI JANTUNG KOTA PAHLAWAN


            Kata sebagian orang cinta itu tidak pernah salah. Mungkin kalimatitu juga berlaku untuk cinta sesame jenis (Lesbian). Sebut saja namanya Alexa, aku mengenalnya saat aku masih bekerja disalah satu perusahaan roti ternama di Surabaya. Perkenalanku berawal saat gadis yang menurutku memiliki paras yang cukup cantik ini menjadi karyawan baru di divisi yang sama denganku saat itu. Dalam penglihatanku Alexa terlihat seperti gadis pada umumnya, hanya saja penampilannya yang sedikit tomboy saja. Dan penampilan seperti itu tentu saja sama sekali wajar di era yang seperti ini. Perempuan bertingkah seperti laki-laki begitupula sebaliknya, laki-laki yang bertingkah seperti perempuan.
            Berawal dari sebuah percakapan kecil saat kami sedang makan siang di sebuah kantin yang sengaja disiapkan khusus untuk para karyawan perusahaan.
“Hey fir, uda pesen makanan? Kalau belum mau sekalian aku pesenin?” ujar Alexa yang tiba-tiba muncul di hadapanku.
“Ngagetin aja lex, udahlah.” Jawabku sedikit kaget karena kedatangan Alexa yang terkesan tiba-tiba. Alexapun segera meninggalkanku dan bergegas untuk memesan makan siangnya namun tak lama kemudian dia sudah kembali duduk dengan sepiring nasi padang di tangannya.
“Fir, gabung yaa” ujarnya lagi kepadaku  aku hanya menjawabnya dengan anggukan .
“Eh fir kamu kenal nggak sama karyawan yang duduk di sebelah sana itu?” Tanya Alexa  tiba-tiba sambil melirik salah satu meja makan di ujung kantin ini. Aku yang sedari tadi mengikuti kemana arah matanya memandang langsung mengerti siapa orang yang dimaksud oleh Alexa.
“Ooooohhh si indah?” jawabku seadanya dan belum mengerti kemana arah pembicaraan Alexa yang sebenarnya.
“Manis banget yaa,,,,” pujinya.
Aku masih sibuk dengan makananku namun sedikit merasa terganggu dengan pujian Alexa dan disergap rasa aneh dengan tingkah lakunya yang tiba-tiba melontarkan pujian yang sebenarnya lumrah saja dilakukan seorang perempuan kepada sesama jenisnya yang emiliki penampilan menarik. Namun, aku menangkap sesuatu yang berbeda di mata Alexa saat sesekali memandangi wajah salah satu karyawan bernama Indah yang meurutku memiliki penampilan menarik dan paras yang begitu cantik serta terkesan sangat feminine untuk sekelas karyawan perusahaan swasta seperti ini.
            Entah bagaimana awalnya setelah percakapan kecil itu setiap harinya aku seringkali menangkap basah Alexa memberikan perhatian-perhatian kecil dan perlakuan manis kepada Indah. Perasaan-perasaan aneh semakin bermunculan di benakku melihat kedekatan Alexa dan Indah yang mulai mengganggu penglihatanku. Karena untuk kedekatan sesama  jenis menurutku itu terlalu berlebihan. Sampai suatu ketika saat aku mendapat shift malam aku tak sengaja melihat Alexa tengah mencium Indah di parkiran perusahaan.  Entahlah saat itu juga ada perasaan jijik, aneh, bahkan canggung melihat hal seperti itu.
            Sejak saat itu aku mulai berspekulasi dan berkutat dengan pikiranku sendiri. Sampai suatu ketika Alexa mulai bertanya lagi kepadaku tentang sikapku yang berubah dan seakan-akan menjaga jarak dengannya. Karena bagaimanapun hal-hal seperti itu sangat-sangatlah asing dan jauh berbeda dengan kehidupanku di kota kecil sekaligus bisa dibilang pedesaan yang masih terlampau kental dengan norma-norma dan adat istiadat yang berbanding terbalik dengan kota metropolitan sekelas Surabaya. Sampai pada akhirnya Alexa menyadari alasanku menjaga jarak dengannya dan dia mulai menceritakan segalanya.
            Alexa menceritakan alasannya mengapa seorang gadis yang aku piker begitu baik dan sama saja dengan gadis dan karyawan-karyawan lainnya di perusahaan ini. Kurangnya perhatian dan sikap kasar dari sang ayah kepada ibunya menjadi pemicu mengapa ia memutuskan untuk menjadi seorang ‘Butchy’ (Laki-laki dalam lesbian) karena ia ingin menjdi laki-laki yang baik bagi pasangannya. Tidak seperti sang ayah yang begtu kasar pada ibunya. Dia mengenal sosok Indah justru bukan dari aku. Namun cerita dari para temannya di komunitas lesbian yang tidak pernah akau tahu sebelumnya yang ternyata sudah cukup menjamur di Surabaya.
            Surabaya yang dikenal sebagai kota pahlawan dengan ceritanya yang melegenda dan cerita kelam serta pergaulan bebas yang juga tak lekang dimakan zaman. Ironis memang. Yang membuatku terkejut tak hanya cerita Alexa tentang kehidupannya sebagai seorang ‘Butchy’ namun juga indah yang  telah lebih dulu terjun sebagai seorang ‘Femme’ (Perempuan dalam lesbian) dan juga seperti yang telah dituturkan oleh Alexa Indah juga tergabung dalam sebuah komunitas lesbian di kota pahlawan. Indah juga tentunya memiliki alasan dan kisah yang tak kalah tragis seperti Alexa .
            Dari cerita yang kudengar dari Alexa aku merasa diriku terpental begitu jauh dari garis hidup yang kujalani selama ini. Bagaimana tidak, hidup di kota besar sekelas Surabaya yang ternyata memiliki realita yang berbanding terbalik dengan kehidupanku yang normal dan biasa-biasa saja di kampung halamanku. Disini, individualism begitu kental terasa, hingga permasalahan-permasalahan keluarga yang begitu kompleks dibandingkan di sebuah desa. Hidup beriringan dengan hal-hal seperti lesbian, homo, kehidupan malam yang penuh hingar binger memaksaku untuk mau tidak mau hidup brdampingan bersama sisi kelam Surabaya.
            Setelah cerita pelik tentang Alexa dan kehidupan lesbiannya kami masih berteman dengan cukup baik meskipun dengan sisi lain yang dimiliki olehnya. Bahkan hingga saat ini aku masih tak habis pikir Alexa masih sering meminta nasihatku. Yang paling mengejutkan bahwa sesungguhnya Alexa ingin keluar dari kubangan menjadi seorang lesbian tersebut. Namun barangkali seperti pada umumnya untuk meninggalkan sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan bahkan rutinitas akan cenderung sulit untuk mengakhirinya. Berkali-kali aku mencoba mengenalkannya dengan teman-teman lelaki yang aku kenal. Namun tetap saja hingga saat ini yang aku tahu Alexa tetap menjadi seorang lesbian.
“Lexa, sebagai temen mungkin aku nggak tahu apa-apa tentang kamu dan kehidupan kamu aku sudah coba bantu kamu  tapi semuanya balik lagi ke kamu karena yang bisa ngerubah  semuanya adalah diri kamu sendiri “ pesanku pada Alexa.
            Saat itu juga mata Alexa terlihat berkaca-kaca seraya membuka kedua tangannya bersiap untuk memelukku. Aku kaget namun  untuk terakhir kalinya aku menyambut pelukan itu bukan sebagai  seorang kesbian tapi sebagai seorang sahabat. Memang tidak ada agama yang membenarkan hal tersebut. Namun Alexa telah mengajarkanku banyak hal tentang persahabatan, cara menghargai dan tidak egois untuk hidup berdampingan dengan sisi-sisi kelam kahidupan metropolitan. Pesan itu menjadi pesan terakhirku untuknya sebelum aku mengundurkan diri dari tempat kerjaku itu. Karena kontrak kerjaku yang sudah waktunya untuk diakhiri.

            Alexa  tetaplah Alexa gadis biasa dengan sisi lain yang tidak banyak orang bisa menerima dan memahaminya . menyalahi kodratnya sebagai seorang wanita tentu tidak bisa disebut sebagai pilihan. Tapi keadaan yang telah membentuknya. Seiring  berjalannya waktu kami masih sering berkomunikasi meski hanya sekedar menanyakan kabar dan bertukar pengalaman . dan tetap menjadi teman yang baik bagi satu sama lain. Harapanku untuk alexa tetap sama menjadi seorang wanita yang mencintai lelaki seutuhnya dan tidak lagi menyalahi kodratnya.

1 komentar: